Axonn Research menemukan bahwa tujuh dari sepuluh responden melihat citra brand menjadi lebih positif setelah menyaksikan video iklan yang menarik, namun sebelum video tersebut ditonton, ada banyak hal yang mempengaruhi apakah video tersebut tersampaikan dengan baik kepada user.

Ketika video iklan muncul, secara otomatis otak kita mengkalkulasi apakah video tersebut layak untuk ditonton, apakah kontennya menarik, atau memang sesuatu yang user butuhkan. Zaman sekarang rasanya sangat sulit untuk menjaga perhatian user, semuanya penuh distraksi, notifikasi chat, notifikasi app lain, banner, kolom komentar, dan berbagai macam tombol lainnya. Tampilan visual atau user experience pada smartphone sangat mempengaruhi perilaku user.

Format video bersifat linear, video berjalan berdasarkan durasi yang bergulir pada timeline. Masalah terjadi ketika user mengklik tombol “Skip Ad” atau “tombol x” sebelum pesan dalam iklan berhasil disampaikan. Studi dari Visible Measures mengklaim bahwa dua puluh persen pengguna meninggalkan video dalam waktu sepuluh detik atau kurang. Hal tersebut menuntut para pengiklan untuk dapat menyampaikan pesan mereka dengan lebih singkat.

Dalam setahun terakhir, 56% video iklan yang sudah terpublish berdurasi dibawah 2 menit. Namun para pengiklan harus mengkaji durasi video lebih lanjut karena perilaku user tiap platform tentunya akan berbeda pada platform lain. Jadi pengiklan harus mempersiapkan berbagai versi video berdasarkan platform video tersebut tayang.


× How can I help you?